Kepala PerPusNas lantik 35 Pejabat Fungsional

Dilansir langsung dari
www.perpusnas.go.id

Salemba, Jakarta–Di saksikan Deputi Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Ofy Sofiana, dan Inspektur, Darmadi, Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando, melantik 35 pejabat fungsional naik jenjang, Kamis, (2/7). Pada kesempatan tersebut, mantan Sekretaris Utama Perpusnas, Sri Sumekar, turut dilantik menjadi Pustakawan Utama, yang sekaligus mengakhiri masa jabatan strukturalnya sebagai Sekretaris Utama.

Kepala Perpusnas mengisahkan bagaimana rivalitas Presiden Amerika Serikat, Thomas Jefferson, dan Wakil Presiden, John Adams, tidka menghalangi niat keduanya mendirikan Library of Congress yang terkenal hingga sekarang. Pun dengan para pustakawan agar tidak berpikir dan bekerja untuk dirinya sendiri. 

“Pustakawan bukan bekerja untuk dirinya sendiri, lalu mengumpulkan angka kredit, dan kemudian naik jabatan. Tetapi bagaimana mencerdaskan anak bangsa,” terang Kepala Perpusnas saat arahan saat pelantikan.

Kepala Perpusnas juga mengingatkan, momen Hari Jadi organisasi Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) pada 7 Juli nanti bukan sebagai momen kenangan, mengingat ketika deklarasi pertama dikumandangkan, melainkan apa yang bisa selanjutnya dipersembahkan dari para pustakawan.

“Pustakawan sejak dilahirkan tidak pernah mendeklarasikan dirinya sebagai orang pintar melainkan sebagai pengelola ilmu pengetahuan. Literasi adalah pembatas yang jelas antara kehidupan purba ke modern. Dan yang membedakan diantara kedua masa tersebut adalah aktivitas membaca. Pustakawan harus bisa menggali semua informasi yang diperolehnya untuk kemudian dieksplorkan kepada masyarakat dengan menggunakan media-media yang ada,” ucap Syarif Bando.

Reportase : Hartoyo Darmawan


Rapat Mingguan

Hampir setiap sebulan dua kali, para staft dan Pimpinan Perpustakaan selalu melaksanakan Rapat atau biasanya penilaian terkait kinerja Perpustakaan selama sebulan, sehingga dapat melihat apa saja yang harus di tingkatkan ataupun dipertahankan. Merupakan suatu rangkaian kegiatan rutin oleh pimpinan serta pegawai dalam meningkatkan kinerja Perpustakaan, terutama dalam meningkatkan pelayanan terhadap pengunjung perpustakaan. Biasanya dilaksanakan setiap Jumat.

Rapat bersama pimpinan


SELAMAT HARI PUSTAKAWAN INDONESIA

Sejarah singkat IPI (Ikatan Pustakawan Indonesia)

Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) didirikan pada tanggal 7 Juli 1973 dalam Kongres Pustakawan Indonesia yang diadakan di Ciawi, Bogor, 5-7 Juli 1973. Kongres ini merupakan perwujudan kesepakatan para pustakawan yang tergabung dalam APADI, HPCI dan PPDIY dalam pertemuan di Bandung pada tanggal 21 Januari 1973 untuk menggabungkan seluruh unsur pustakawan dalam satu asosiasi. Dalam perjalanan panjang sejarah perpustakaan di negeri ini, jauh sebelum IPI lahir, sudah ada beberapa organisasi pustakawan di Indonesia. Mereka ini adalah Vereeniging tot Bevordering van het Bibliothekwezen (1916), Asosiasi Perpustakaan Indonesia (API) 1953, Perhimpunan Ahli Perpustakaan Seluruh Indonesia (PAPSI) 1954, Perhimpunan Ahli Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Indonesia (PAPADI) 1956, Asosiasi Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Indonesia (APADI) 1962, Himpunan Perpustakaan Chusus Indonesia (HPCI) 1969, dan Perkumpulan Perpustakaan Daerah Istimewa Yogyakarta (PPDIY).

Dalam Kongres Pustakawan Indonesia tahun 1973 tersebut, ada dua acara utama yang diagendakan, yaitu (1) seminar tentang berbagai aspek perpustakaan, arsip, dokumentasi, informasi, pendidikan, dan (2) pembentukan organisasi sebagai wadah tunggal bagi pustakawan Indonesia. Berkaitan dengan acara yang disebut terakhiri, Ketua HPCI Ipon S. Purawidjaja melaporkan bahwa sebagian besar anggota HPCI, melalui rapat di Bandung tanggal 24 Maret 1973 dan angket, setuju untuk bergabung dalam satu organisasi pustakawan. APADI pun memutuskan bersedia meleburkan diri melalui keputusannya tertanggal 4 Juli 1973, dan terhitung sejak 7 Juli 1973 APADI bubar sejalan dengan terbentuknya IPI.

Dengan kesepakatan bersama itu, maka kongres Ciawi melahirkan wadah tunggal pustakawan Indonesia, yaitu Ikatan Pustakawan Indonesia. Pemilihan untuk Pengurus Pusat, yang didahului dengan penyampaian tata tertib pemilihan, menghasilkan a.l. ketua Soekarman, sekretaris J.P. Rompas, dan bendahara Yoyoh Wartomo. Komisi yang terbentuk di antaranya adalah Komisi Perpustakaan Nasional yang diketuai oleh Mastini Hardjoprakoso, Perpustakaan Khusus oleh Luwarsih Pringgoadisurjo (alm.) dan Pendidikan Pustakawan oleh Sjahrial Pamuntjak. Pada tanggal 7 Juli 1973 itu juga Anggaran Dasar IPI yang terdiri dari 24 pasal yang sudah disahkan oleh peserta Kongres.

Penerapan Protokol Kesehatan

Selama masa Pandemi COVID -19 ini belum ada vaksin dan penangkalnya, kita diharapkan untuk beraktivitas sesuai dengan Protokol Kesehatan. Dengan kondisi tersebut maka pihak Perpustakaan juga melakukan hal yang sama, yaitu semua kegiatan yang dilakukan di lingkungan Perpustakaan Universitas Cenderawasih harus menjalakan Protokol Kesehatan seperti:

  • Memakai Masker
  • Mencuci Tangan sebelum memasuki Ruang Perpustakaan
  • Menggunakan hand sanitizer ketika memegang buku atau komputer
  • Menjaga jarak saat duduk bersama.
Mencuci Tangan sebelum masuk Ruang Perpustakaan
Memakai sabun saat mencuci tangan
Hand sanitizer disiapkan disamping komputer
Menggunakan Hand Sanitizer sebelum menggunakan Komputer

Attentions

Perpustakaan Universitas Cenderawasih sudah memiliki .aplikasi digital yang bersifat terbuka untuk umum, sudah mengoleksi beragam buku digital yang bisa dipinjam dan dibaca dimana saja
Berikut ini adalah alamat untuk mengunduh aplikasi perpustakaan digital Universitas Cendrawasih :

Aplikasi Perpustakaan Digital

Kritik dan saran sangat kami nantikan, bisa disampaikan melalui :
email :uncenlibrary@gmail.com
twetter : @PerpusUncen
FB : Perpustakaan Universitas Cenderawasih

Demikian terimakasih.
Salam Literasi 👆