JAYAPURA, 18 Mei 2026 – Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan Universitas Cenderawasih (Uncen) resmi membuka gelaran Festival Literasi hari ini di Gedung UPA Perpustakaan Uncen, Waena.
Acara ini dibuka langsung oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Uncen, Dr. Septinus Saa, S.Sos., M.Si., mewakili Rektor Universitas Cenderawasih. Festival tahun ini mengusung tema besar "Papua Membaca: Melintasi Batas Digital, Menjaga Akar Budaya". Upacara pembukaan ini dihadiri oleh jajaran pejabat penting, termasuk para Dekan di lingkungan Uncen, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Papua, serta Kepala Dinas Perpustakaan, Kearsipan Kota dan Kabupaten Jayapura dan para Kepala Perpustakaan Perguruan Tinggi Kota Jayapura.
Gedung UPA Perpustakaan Universitas Cenderawasih (Uncen) di kawasan Waena hari ini menjadi pusat perhatian ratusan mahasiswa, akademisi, dan pegiat literasi. Uncen resmi memulai perhelatan Festival Literasi 2026. Acara pembukaan yang berlangsung meriah ini dihadiri oleh pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari jajaran dekanat hingga kepala dinas tingkat provinsi dan daerah.
Festival tahun ini dirancang secara khusus untuk menjawab tantangan zaman melalui tema "Papua Membaca: Melintasi Batas Digital, Menjaga Akar Budaya". Fokus utama kegiatan ini bertumpu pada tiga agenda besar, yaitu Pameran Buku Langka, Bazar Buku Murah, dan Talk Show interaktif bersama Duta Baca sekaligus Pegiat Literasi Papua, Greats Walilo.
Semangat kolaborasi sangat terasa di barisan kursi terdepan. Kehadiran para Dekan dari berbagai fakultas di lingkungan Uncen menunjukkan dukungan akademis yang kuat terhadap gerakan ini.
Selain itu, hadirnya Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Papua bersama Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota serta Kabupaten Jayapura mempertegas adanya sinergi yang solid antara dunia kampus dan pemerintah daerah dalam meningkatkan indeks literasi masyarakat.
Tepat pukul 10.00 WIT, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Uncen, Dr. Septinus Saa, S.Sos., M.Si., secara resmi membuka festival dengan memukul tifa sebanyak lima kali, disambut tepuk tangan meriah dari seluruh hadirin.
Dalam sambutan pembukaannya, Dr. Septinus Saa menekankan pentingnya esensi tema festival dalam membentuk karakter generasi muda Papua di era modern.
"Tema Papua Membaca: Melintasi Batas Digital, Menjaga Akar Budaya adalah alarm pengingat bagi kita semua. Di satu sisi, mahasiswa Uncen harus melompat jauh melintasi batas-batas digital, menguasai teknologi, dan mengakses jurnal global. Namun di sisi lain, kaki kita harus tetap berpijak kuat pada akar budaya dan kearifan lokal Papua. Jangan sampai digitalisasi membuat kita lupa pada sejarah dan identitas diri sendiri," tegas Dr. Septinus Saa.
Beliau juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada dinas perpustakaan provinsi dan kabupaten/kota yang hadir, berharap momentum ini melahirkan program kerja sama berkelanjutan untuk mendistribusikan buku hingga ke pelosok kampung di Papua.
Pameran Buku Langka: Menjaga Memori Kolektif Keaslian Papua
Sesaat setelah prosesi peresmian, Wakil Rektor III beserta rombongan langsung diarahkan menuju area Pameran Buku Langka yang menjadi implementasi nyata dari sub-tema Menjaga Akar Budaya. Pameran ini menampilkan puluhan koleksi langka Van Baal, serta laporan-laporan penelitian antropologi abad ke-19 dan awal abad ke-20 mengenai wilayah adat di Papua. Beberapa dokumen yang menarik perhatian pengunjung antara lain catatan harian ekspedisi penjelajah Eropa di pedalaman pegunungan tengah, peta-peta pemetaan wilayah adat kuno.
Kepala UPA Perpustakaan Uncen menjelaskan bahwa sebagian besar koleksi ini biasanya tersimpan di ruang khusus dan tidak dipinjamkan secara bebas demi menjaga fisik dokumen asli.
"Pameran ini menjadi momen langka bagi para mahasiswa dan peneliti untuk melihat langsung bukti autentik sejarah peradaban dan kekayaan adat kita," ungkapnya saat memandu jalannya peninjauan stan pameran.
Banyak mahasiswa antropologi dan sejarah terlihat antusias mengamati lembaran-lembaran kertas yang telah menguning, mencatat informasi-informasi penting untuk bahan kajian tugas akhir mereka.
Bazar Buku Murah: Mendekatkan Akses Bacaan Berkualitas
Bergerak ke area lobby gedung perpustakaan, suasana riuh dan semarak tampak jelas di area Bazar Buku. Panitia festival menggandeng berbagai penerbit skala nasional maupun lokal untuk menyediakan ribuan judul buku dengan potongan harga, mulai dari diskon 50% hingga 80%.
Talk Show Literasi: Inspirasi Bergerak Bersama Greats Walilo
Puncak kemeriahan hari pertama festival ditutup dengan acara Talk Show Literasi yang diselenggarakan di Ruang Hybryd UPA Perpustakaan Uncen. Mengangkat diskusi interaktif yang sejalan dengan semangat Melintasi Batas Digital, diskusi ini menghadirkan Greats Walilo, seorang tokoh muda, penulis buku, sekaligus Duta Baca dan Pegiat Literasi Papua yang dikenal vokal dalam mengampanyekan gerakan gemar membaca di komunitas akar rumput.
Dalam pemaparannya yang interaktif dan penuh energi, Greats Walilo membagikan pengalaman pahit-manisnya Ia menekankan bahwa tantangan terbesar literasi di era digital saat ini adalah bagaimana memanfaatkan gawai (gadget) untuk menyebarkan konten edukatif dan mendokumentasikan kearifan lokal.
"Kita tidak boleh hanya menjadi konsumen pasif di media sosial. Sesuai tema festival kita hari ini, melintasi batas digital berarti anak muda Papua harus berani mengambil peran sebagai produsen pengetahuan lewat platform modern. Namun ingat, apa pun teknologi yang kita pakai, konten yang kita angkat harus tetap menjaga akar budaya kita sendiri. Tulislah tentang adat, bahasa, dan nilai-nilai luhur kita agar tidak hilang ditelan zaman," tegas Greats Walilo yang langsung disambut tepuk tangan riuh dari peserta talk show. Selain Greats Walilo, narasumber lainnya yaitu bapak Idzahari Rahman dosen Prodi Ilmu Perpustakaan FISIP Uncen, Qalmi Putri (Pengiat literasi digital) dan Muhammad Faturrohman (Komunitas Taman Baca).
Komitmen Berkelanjutan Uncen untuk Literasi Daerah
Festival Literasi UPT Perpustakaan Uncen dijadwalkan akan terus berlangsung hingga hari Kamis tanggal 21 Mei 2026. Melalui integrasi kegiatan pameran buku langka, kemudahan akses buku murah lewat bazar, serta suntikan motivasi dari para figur inspiratif seperti Greats Walilo, Idzahari Rahman, Qalmi Putri, Muhammad Faturrohman, Uncen membuktikan komitmennya untuk tidak hanya menjadi pusat menara gading akademis, melainkan juga sebagai lentera penerang literasi yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat di Tanah Papua. Seluruh civitas akademika dan warga Jayapura dihimbau untuk hadir memanfaatkan fasilitas serta ruang edukasi yang disediakan selama festival berlangsung tanpa dipungut biaya sepeser pun. *Th*